Serang – Cikande Tercemar Radioaktif Warga tak pernah menyangka, tanah tempat mereka berpijak menyimpan bahaya yang tak terlihat. Di balik rerumpun rumput dan halaman pabrik, radioaktif mengintai. Bukan rumor. Bukan isu. Tapi fakta resmi.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) mengungkap bahwa sebanyak 10 titik di kawasan industri Cikande terdeteksi tercemar radioaktif Cesium-137, zat berbahaya yang bisa memicu kanker, mutasi genetik, bahkan kematian jika terpapar dalam jangka panjang.
Apa Itu Cesium-137, dan Mengapa Menakutkan?

Baca Juga : Polres Serang Tangkap Pengedar Narkoba di Cikande
Cesium-137 bukan zat asing di dunia nuklir. Ia berasal dari limbah reaktor atau peralatan industri medis yang gagal ditangani dengan benar. Bentuknya bisa menyerupai serpihan logam biasa — tak berbau, tak berwarna, tapi mematikan.
Zat ini punya paruh waktu 30 tahun. Artinya, setelah 30 tahun pun, setengah dari zat itu masih aktif. Dan di Cikande, zat ini sudah menyatu dengan tanah.
“Kami mendeteksi level radiasi di atas ambang batas aman di 10 titik, termasuk area terbuka dan dekat fasilitas industri,” ujar pejabat BAPETEN.
Bagaimana Bisa Terjadi? Dugaan Akar Masalah
Investigasi awal menunjukkan kemungkinan adanya pembuangan ilegal limbah radioaktif dari peralatan industri bekas, seperti pengukur kerapatan atau alat radiografi logam.
KLH Fokus Dekontaminasi: Perlahan Tapi Harus Pasti
Kementerian Lingkungan Hidup dan BAPETEN kini melakukan proses dekontaminasi bertahap, dimulai dari:
-
Mengisolasi area tercemar
-
Menggali dan mengamankan tanah terpapar
-
Melakukan penyisiran lanjutan di sekitar kawasan industri
Namun proses ini tidak instan
Warga Waswas, Informasi Masih Minim
Meski pemerintah mulai bergerak, warga mengaku masih bingung dan khawatir.
“Kami nggak tahu titik pastinya di mana. Lahannya dekat rumah warga atau di pabrik-pabrik besar?” ujar Rika, warga sekitar.
“Anak-anak kami main di luar, tapi nggak ada imbauan atau pagar pembatas. Ini bukan gas bocor, ini radiasi. Nggak kelihatan,” tambahnya.
Masalah lain adalah minimnya informasi publik. Banyak warga baru tahu soal kontaminasi ini setelah berita viral di media sosial. Padahal paparan jangka panjang bisa berdampak laten.

















