Serang – Pemkab Serang Selidiki Duka menyelimuti sebuah keluarga di Kabupaten Serang, Banten, setelah anak mereka yang menderita gizi buruk meninggal dunia.
Kepergian sang anak semakin menyayat hati karena diduga terjadi setelah ia ditolak berobat oleh rumah sakit swasta.
Anak tersebut masih berusia 2 tahun. Ia berasal dari keluarga kurang mampu di wilayah kecamatan Pontang.
Sang ibu telah membawa anaknya ke beberapa fasilitas kesehatan, namun usaha itu berakhir tragis.

Baca Juga : Kepala Toko Otaki Perampokan Minimarket di Serang, Gasak Duit Rp57 Juta
Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial dan laporan warga, rumah sakit swasta menolak karena pasien dianggap tidak memiliki jaminan BPJS aktif.
Kabar ini langsung menyulut reaksi masyarakat, terutama di Serang dan sekitarnya.
Banyak warganet menyayangkan sistem pelayanan kesehatan yang tidak responsif terhadap kondisi darurat.
Setelah viral, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menyatakan akan menyelidiki kasus ini secara menyeluruh.
Bupati Serang pun langsung memerintahkan Dinas Kesehatan untuk turun ke lapangan dan memastikan kronologi yang sebenarnya.
“Kami tidak akan tinggal diam. Ini menyangkut nyawa anak kecil,” ujar salah satu pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Serang.
Dalam penyelidikan awal, diketahui bahwa anak tersebut sebelumnya telah menunjukkan gejala berat seperti demam tinggi dan sesak napas.
Penolakan itu diduga membuat kondisi si anak memburuk hingga akhirnya meninggal dunia di rumah beberapa jam kemudian.
Pihak ini rumah sakit swasta sendiri belum memberikan pernyataan resmi kepada media.
Namun, menurut informasi yang dihimpun dari sumber internal, rumah sakit berdalih tidak memiliki fasilitas rawat inap anak gizi buruk.
Hal itu justru memunculkan pertanyaan baru: mengapa pasien tidak langsung dirujuk ke rumah sakit lain?
Menurut aturan Kementerian Kesehatan, penanganan gawat darurat seharusnya tidak boleh ditunda karena persoalan administratif.
Terlebih dalam kasus anak-anak, aspek kemanusiaan seharusnya menjadi prioritas utama dalam layanan medis.
Lembaga ini perlindungan anak di Banten turut angkat bicara dan meminta investigasi terbuka atas kejadian ini.

















